Alih-alih Bangkitkan Ekonomi UMKM, Biaya Sewa Stand di Festival UMKM Brebes Mahal

Ekonomi

BREBES, gugah.id – Alih-alih menjadi salah satu upaya untuk pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19 dan diharapkan menjadi stimulus untuk meningkatkan daya beli masyarakat, serta dapat menambah penghasilan pelaku UMKM, sewa stand di acara Festival UMKM Brebes yang berada di komplek halaman Islamic Center Brebes terbilang mahal.

Sewa stand selama acara berlangsung sepuluh hari, mulai 14-23 Januari ini mencapai Rp 1,5 juta sampai Rp 1,8 juta. Ditambah lagi iuran kebersihan yang per harinya dipatok Rp 5 ribu. Meski demikian, fasilitas yang disediakan dalam acara Gelar Produk UMKM untuk memperingati Hari Jadi Brebes ini terbilang minim. Sampah masih berserakan di lokasi.

Kondisi ini pun dikeluhkan sejumlah pelaku UMKM yang mengikuti gelaran produk ini. Salah satunya Adian, yang merupakan warga Kaligangsa Wetan. Meskipun festival untuk menyambut Hari Jadi Brebes berjalan dengan baik dan banyak pengunjung yang datangan bersama keluarga sampai malam, dia mengeluhkan, selama gelaran ini berlangsung masih adanya sampah di lokasi acara.

“Untuk kebersihan kita bayar Rp5.000 tapi masih belum bersih. Mungkin karena pengunjung yang tidak melihat tempat sampah atau kurangnya menjaga kebersihan,” katanya.

Kondisi cuaca juga berpengaruh pada pendapatan mereka sejak dibukanya acara tersebut. Saat hujan pada sore hingga malam hari, dagangannya sepi pengunjung lantaran tidak adanya tempat untuk berteduh. Di hari kedua acara, pengunjug memadati lokasi hingga membludak. Namun di hari selanjutnya saat turun hujan, festival UMKM ini sepi pengunjung.

“Kendalanya kemarin ada hujan, sebelum hujan Alhamdulillah ramai. Setelah hujan, sudah tidak ada pengunjung lagi,” ungkapnya

Sementara itu, pedagang harumanis karakter dan es asap, Kharis Setiawan mengatakan, biaya sewa stand dari mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 1,8 juta selama acara berlangsung sepuluh hari. Menurutnya harga itu terbilang mahal. Apalagi selama dua tahun ini usaha mereka terdampak pandemi Covid-19. “Saya jual harumanis karakter hewan seperti beruang, kelinci, bebek. Kalau es asap Rp20.000 satu porsi,” ungkapnya.

Sebelumnya, seorang pengunjung, Athifa mengatakan, jajanan di lokasi tersebut terbilang mahal. Berbeda dengan harga jajanan di luar acara tersebut, meskipun membeli di penjual yang sama. Untuk snack yang sedang ngetren saat ini ialah snack berasap yang diolah dengan nitrogen cair. Harganya mulai dari Rp20-30 ribu per porsi di lokasi itu.

“Banyak jajanan yang harganya mahal. Ada juga jajanan yang porsinya sedikit tapi harganya mahal,” katanya.

Pengunjung lain, Wiharti mengatakan, di dekat lokasi Gelaran Produk UMKM tidak ada toilet. Pengunjung harus mencari toilet masuk ke komplek Islamic Center. Minimnya meja dan kursi yang digunakan pengunjung untuk menyantap jajanan. Sehingga, para pengunjung seringkali berebut tempat duduk di lokasi festival ini.

“Tempat sampah juga minim. Saat pengunjung makan jajanan di kursi tidak disediakan tempat sampah. Jadi saat bergantian duduk di situ, banyak sampah berserakan. Banyaknya makanan Korean Food, tidak ada makanan tradisional,” ungkapnya.

Sementara itu, Panitia Hari Jadi Brebes bagian Seksi Bazar dan Kuliner, Yulia Hendrawati mengatakan, biaya acara Gelar Produk UMKM Brebes ini ditanggung bersama-sama oleh para pelaku UMKM. Biaya itu diperlukan untuk membayar tenda stand, layos, listrik, dan biaya keamanan dan lainnya selama sepuluh hari. Sehingga, bagi pelaku UMKM yang mengikuti acara ini harus iuran untuk biaya kebutuhan tersebut.

“Nah ini ditanggung bareng-bareng untuk biaya listrik dan lainnya seperti ornamen-ornamen. Sehingga, mereka dikenakan biaya sewa stand yang bervariasi,” kata Yulia.

Yulia mengungkapkan, biaya sewa stand mulai dari Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta. Untuk stand di bagian gapura pintu masuk atau bagian depan dikenakan biaya Rp 2 juta. Semakin ke belakang, biaya stand semakin turun hingga harga Rp 1,5 juta. Biaya stand ini telah disepakati bersama oleh pihak panitia Hari Jadi Brebes ke 344 tahun. Namun tidak semua 47 pedagang dikenakan biaya.

“Jadi kalau yang bayar itu, yang menjual satu produknya sendri. Kalau komunitas itu satu tenda isinya banyak pedagang. Makanya di gratiskan. Ada 10-11 tenda yang digariskan,” ungkap dia.

Terkait pungutan biaya kebersihan Rp 5 ribu per hari yang dikenakan kepada masing-masing tenda, dirinya mengaku belum mengetahui. Menurutnya pungutan biaya kebersihan itu di luar sepengetahuan panitia. Pihaknya pun akan mengecek ke lokasi terkait adanya pungutan biaya kebersihan tersebut.

“Kami dari panitia belum tahu ada tambahan biaya kebersihan sehari Rp 5000. Ini nanti coba saya cek dulu,” tandasnya. (Sokhib)

Leave a Reply