Angka Kematian Ibu di Brebes Tinggi, Relawan Luncurkan Platform Pengaduan

Kesehatan
Direktur Eska Unggul Indonesia, Herwanto menyampaikan tentang platform yang dikembangkan atas kerja sama dengan AtmaGo. (foto: Mahesa)

BREBES, gugah.id – Berangkat dari kondisi masyarakat yang lebih banyak memanfaatkan teknologi informasi untuk tetap terhubung satu sama lain, Atma Connect berupaya untuk menerapkannya terhadap pelayanan publik. Salah satunya, layanan aduan kesehatan masyarakat melalui AtmaGo, www.atmago.com yang merupakan sebuah platform online yang telah dikembangkan sejak 2014.

Dalam upaya menerapkan layanan pengaduan kesehatan Atma menggelar kegiatan sebagai dukungan layanan aduan puskesmas di Kabupaten Brebes melalui pemanfaatan laporan warga dengan platform AtmaGo Desa Siaga Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir (KIBBLA) di di Kantor IDI Brebes,Sabtu (27/11/2021).

“Jadi kami berangkat dari kesadaran bahwa sekarang zamannya online. Orang-orang sudah terbiasa dengan online. Jadi kenapa kita tidak me-migrasi-kan sistem pengaduan warga ini lewat online?,” ungkap Direktur Program Atma Connect, Silvia Yulianti di sela kegiatan.

Lebih jauh lagi, pada Maret 2020, berbarengan dengan mulai masuknya Covid-19 ke Indonesia, Atma mengembangkan www.covid19.atmago.com yang berfungsi sebagai platform informasi dan layanan terintegrasi yang berhubungan dengan Covid-19.

Di Kabupaten Brebes, Atma Connect bersama Eska Unggul Indonesia telah berupaya untuk membangun kerjasama dengan para pemangku kepentingan di bidang kesehatan. Kerjasama ini disepakati setelah tujuh bulan mengembangkan sistem laporan warga di Brebes, khususnya di bidang layanan kesehatan.

Atma Connect bekerja sama dengan Eska, dan koalisi OMS Brebes, KOBBER memfasilitasi penyampaian layanan aduan dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Brebes. Bahkan, dalam setahun ini telah dilakukan program percontohan pada layanan Puskesmas Tanjung dan Puskesmas Wanasari.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah bagaimana kita bisa menampung aduan atau keluhan masyarakat terhadap pelayanan yang dilakukan oleh puskesmas. Masukan itu nantinya akan menjadi suatu dasar agar kita itu melakukan perbaikan terhadap pelayanan kepada masyarakat, khususnya di puskesmas,” tambahnya.

Kegiatan Dukungan Layanan Aduan Puskesmas Kabupaten Brebes Melalui Pemanfaatan Laporan Warga AtmaGo dalam Kerangka Desa Siaga Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir (KIBBLA) di Kantor IDI Brebes. (foto: Mahesa)

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Brebes, dr. Mukhtar mengatakan, meski selama ini pelayanan di puskesmas sudah baik, namun pasti ada hal-hal yang belum sempurna. Sehingga antara kemauan masyarakat dan pelayanan yang diberikan ada sinkronisasi, sehingga hal itu menjadi hal yang baik dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

“Kegiatan ini juga berkaitan dengan angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Brebes. Standar pelayanan kesehatan itu salah satu indikatornya adalah kematian ibu. Kematian ini kita masih tinggi, tentunya pelayanan di Brebes ada yang kurang baik. Mungkin ada hal yang masih kurang baik, nanti diharapkan ada masukan dari masyarakat untuk perbaikan pelayanan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, tujuan dari kegiatan ini adalah bagaimana kita bisa menampung aduan atau keluhan masyarakat terhadap pelayanan yang dilakukan oleh puskesmas. Masukan itu nantinya akan menjadi suatu dasar agar dilakukan perbaikan terhadap pelayanan kepada masyarakat, khususnya di puskesmas.

“Kita belum tahu update terbaru, tetapi memang kita sering menduduki angka tertinggi. Apalagi ada tambahan dari pandemi, sehingga pada tanggal 24 November kemarin, angkanya sudah 98 ibu hamil yang meninggal,” tambahnya.

Direktur Eska Unggul Indonesia, Herwanto menerangkan, dengan platform yang dikembangkan atas kerjasama dengan AtmaGo, harapannya masyarakat bisa menyampaikan aspirasi saran masukan lewat platform ini. Untuk sementara ini, platform pengaduan itu akan diterapkan di desa pilot project, yakni Desa Pesantunan dan Desa Sengon.

“Dalam pilot project ini terdiri lima tim penggerak KIBBLA di desa tersebut, dan admin dari Puskesmas Wanasari dan Puskesmas Tanjung,” ungkapnya.

Herwanto menuturkan, pihaknya telah melakukan indentifikasi penyebab kematian ibu dan bayi tertinggi. Menurutnya, ada banyak penyebab, namun dalam upaya ini pihaknya mengerucut pada pengetahuan masyarakat tentang KIBBLA. Ternyata dari tingkat partisipasi masyarakat dan pelibatan masyarakat di tingkat desa dan pemerintah desa sangat rendah.

“Tim Lima masing-masing desa akan menjadi kader kesehatan, yang memiliki tugas utama melakukan pendampingan ibu hamil. Diharapkan dalam aktivitas sehari-hari, dalam melakukan pendampingan ibu hamil tersebut, Relawan Desa Siaga KIBBLA melakukan update pelaporan harian melalui akun AtmaGo dari Puskesmas Wanasari dan Puskesmas Tanjung,” pungkasnya. (mah)

Leave a Reply