Bantuan Dicabut, Sekeluarga di Brebes Masih Tinggali Rumah Nyaris Roboh

Ekonomi
Kondisi rumah yang ditinggali Untung Slamet bersama anaknya nampak memprihatinkan dengan teras rumah yang sangat pendek dan nyaris roboh. (foto: Mahesa Bagaskara)


BREBES, gugah.id – Sekeluarga di Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes harus tinggal di rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Ibu dan dua orang anaknya ini masih tinggal di rumah gubuk yang nyaris roboh. Mestinya, rumah gubuk reot ini sudah masuk daftar penerima bantuan rehab rumah. Namun, karena orangtuanya meninggal dunia bantuan tersebut dicabut.

Penghuni rumah adalah Untung Slamet (42). Ia bersama kedua anaknya meninggali rumah warisan orangtuanya yang berada di RT 05 RW 03 Desa Dukuhturi Kecamatan Ketanggungan. Sejak 10 tahun terakhir, ia hanya tinggal bersama anaknya lantaran telah ditinggal suaminya, Samroni.

Untung Slamet tinggal di rumah gubuk yang kondisinya sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, kondisi rumahnya yang beralaskan tanah ini nampak berantakan. Dinding rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu sudah bolong-bolong. Di tambah lagi, bagian atap rumahnya yang bocor. Bahkan tinggi bagian teras rumahnya hanya 1,2 meter. Siapapun yang masuk ke rumah itu harus membungkukkan badan.

Ditemui di rumahnya, Untung mengungkapkan, ia bersama kedua anaknya tinggal di rumah warisan orangtuanya yang telah lama meninggal. Ia tinggal di rumah tidak layak berukuran 5×6 ini sejak tiga tahun belakangan. Hanya terdapat satu kamar di rumah itu. Sebelum ibunya meninggal, rumah tersebut mendapatkan program bedah rumah RTLH, namun setelah meninggal dunia bantuan tersebut dicabut.

“Saya tinggal di rumah ini sudah tiga tahun. Suami saya pergi 10 tahun lalu. Dulu bilangnya mau kerja, tapi tidak pernah pulang,” kata Untung Slamet, Jumat (1/10/2021).

Baca Juga:

Untung menuturkan, ia tinggal bersama kedua anaknya yaitu Nur Oktaviani Sari (18) Muhammad Rizki (10). Kini, Untung tidak lagi bekerja dan tinggal di rumah untuk mengurus anaknya yang masih kecil. Untuk biaya hidup sehari-hari, Untung dibantu anak pertamanya yang bekerja di pabrik garmen. Meskipun tinggal di rumah gubuk, mirisnya untung tak mendapatkan bantuan pemerintah.

“Dulu ibu saya namanya Tasmi dapat bantuan PKH. Tapi setelah meninggal dunia tidak dapat bantuan lagi. Sekarang dapat bantuan dari BLT Covid-19 dari desa dan sudah 3 kali dapat. Setiap dapat itu Rp300 ribu,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Dukuhturi, Johan Wahyudi mengatakan, di jumlah warga di desanya ada 9.651 jiwa dengan kurang lebih 5.000 kepala keluarga. Dari jumlah itu, ada sekitar 5.165 jiwa warga miskin sesuai Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Johan mengungkapkan, saat ini ada 361 rumah tidak layak huni di desanya.

“Beberapa waktu lalu sudah dilakukan verifikasi dengan Dinperwaskim dan terdapat 361 rumah yang tidak layak huni,” katanya.

Johan mengakui, desanya masuk dalam daftar 43 desa miskin ekstrem di Kabupaten Brebes. Desa Dukuhturi juga masuk dalam daftar desa intervensi atau pilot project untuk program penanganan kemiskinan oleh Pemkab Brebes. Ia pun berharap rumah tidak layak huni di desanya bisa secepatnya tertangani.

“Kemarin dapat program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari Anggota DPR RI untuk 14 unit rumah tidak layak huni. Kami berharap RTLH ini bisa terus tertangani karena jumlahnya sangat banyak,” tutup Johan. (mah)

Leave a Reply