Banyak Kendala Belajar Daring, Siswa di Brebes dapat Kuota

Pendidikan
Banyak Kendala Belajar Daring Siswa di Brebes Dapat Kuota
Seorang guru membagikan uang kepada siswa untuk pembelian kuota internet pembelajaran daring.

BREBES – Banyak kendala dalam penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau pembelajaran dengan sistem daring yang diterapkan sekolah di tengah pandemi Covid-19. Banyak keluhan juga dari sejumlah walimurid terkait penerapan pembelajaran daring. Kendala utama adalah kuota internet yang semua siswa tidak bisa membelinya untuk mengirim tugas.

“Kendala utamanya memang itu (kuota internet). Kadang ada siswa menitip jabawaban tugas ke siswa lain untuk dikirim ke gurunya. Itu karena siswa tersebut tidak punya uang untuk beli kuota internet,” kata Kepala SMP Negeri 1 Brebes, Darma Suhaeri, Selasa (11/8).

Menurut Suhaeri, pemberian uang kuota Rp 25 ribu per siswa ini untuk mendukung kegiatan belajar para siswa. Fasilitas kuota internet ini sudah sesuai dengan peraturan pemerintah. Terlebih situasi ekonomi saat ini sedang sulit yang dipastikan berdampak langsung kepada orangtua siswa. Sehingga, banyak dari orangtua siswa yang tidak mampu membeli kuota.

“Teknis penggunaan kuota internet juga kami sampaikan agar bisa digunakan lebih efektif. Di satu sisi kami menerapkan PTM, di sisi lain juga kami tetap menerapkan PJJ. Penerapan PJJ ini agar siswa bisa menanyakan materi pelajaran yang belum jelas. Siswa bisa menanyakan kepada gurunya dengan kuota internet yang sudah kami fasilitasi,” lanjut dia.

Suhaeri menjelaskan, saat ini beberapa sekolah di Kabupaten Brebes tengah menyiapkan proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Persiapan itu dilakukan seiring adanya pengumuman yang disampaikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) beberapa lalu untuk daerah zona kuning penyebaran Covid-19, diperbolehkan menggelar PTM.

Sejumlah sekolah tingkat SMP di Kabupaten Brebes tengah mempersiapkan PTM yang diawali dengan sosialisai kepada siswa. Salah satunya SMP Negeri 1 Brebes yang tengah menyusun jadwal kegiatan PTM. Rencananya, PTM di sekolah ini akan digelar pekan depan. Namun demikian, PTM tidak diterapkan sepenuhnya.

“PTM rencananya kami gelar pekan depan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Sementara ini baru sosialisasi dan dijadwalkan pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Hari Selasa dijadwalkan untuk kelas IX, Kamis kelas VIII, dan Sabtu kelas VII,” ungkapnya.

Dharma Suhaeri mengatakan kegiatan sekolah tatap muka ini digelar juga atas permintaan dari orang tua murid. Pertimbangan lain karena banyak murid yang kesulitan saat belajar secara daring. Kegiatan sekolah tatap muka ini berlangsung dengan pengawasan protokol kesehatan COVID-19. Semua murid dan guru juga ikut diperiksa suhu tubuhnya.

“Dari laporan Gugus Tugas Covid-19, Brebes ini sudah masuk zona kuning. Kemudian edaran dari Kementerian pendidikan juga menyebutkan, Brebes masuk salah satu daerah yang diperbolehkan menggelar tatap muka. Selain itu, ternyata banyak wali murid yang melaporkan anaknya mengalami kesulitan bila belajar jarak jauh,” terangnya.

Suhaeri menerangkan kegiatan sekolah tatap muka ini berlangsung selama tiga jam, mulai pukul 07.45-10.45 WIB. Tiap siswa mendapat jatah masuk dua kali dalam seminggu secara bergiliran. Sekolah juga sudah siapkan sarana dan prasarana protokol kesehatan. Tiap kelas disediakan tempat cuci tangan dan penyemprotan desinfektan secara rutin.

Sementara itu, siswi SMP Negeri 1 Brebes, Najwa mengungkapkan, banyak siswa yang ingin belajar dengan sistem PTM ketimbang PJJ atau daring. Materi yang disampaikan dalam pembelajaran dengan sistem daring menurutnya kurang jelas dibandingkan pembelajaran tatap muka. Berbeda dengan PTM yang materinya bisa dipahami para siswa dengan maksimal.

“Banyak materi pelajaran yang kurang dipahami saat daring. Berbeda dengan tatap muka bisa mudah memahami pelajaran,” pungkasnya. (red)

Leave a Reply