Gerimis Penuh Tangis – Begitulah Banjir Merendam

Oleh: Imron Rosyadi Gerimis Penuh Tangis Selalu ku sesali saat tidak menggenggamu melewati gerimis yang lupa habisKupadatkan getun itu sampai menggerutuBersama gerutan gigi bertemu gigi, jalan menemui pergibersama lekukan waktu yang tak pernah kembali Gerimis di tepian sungai itu telah mengalirkan kisah tragisPenuh tangis terbawa arus sungai ke ceruk-ceruk luka dan kemana-mana: Peradaban selalu di […]

Continue Reading

Di Depan Persimpangan – Petrichor

Oleh: Imron Rosyadi Di Depan Persimpangan Aku telah mati ketika kau selesai bicara.Sebab pada suaramu, diiringi nyanyi burung beringsutBunyi insekta bertaut, dan riuh duka makin bertautSejenak daunan derita melambai dengan kalut. Tak ada irama di hadapan jalan pulangGelap dan panjang, lurus, berkelok kadangMenembus tempat-tempat tak bernamaDitinggali sajak dan hasut yang mesti kau pilihSebagai petunjuk jalan […]

Continue Reading

Jogja dalam Kata I Malam Ini Aku Begitu Melankoli

Oleh: Imron Rosyadi Jogja dalam Kata I Pada batas rinduTelah tiba titik temuMelalui tegalan dan kernyit rel dariBarat menuju kota yang tak akan tamatMenyimpan sejarahBumi Mataram yang temaramMenyimpan senyummuMuara segala tenteram Seyogyanya kau memang Jogja: “berhati nyaman”Sepasang matamu yang teduhSeerat genggamu yang kasihSetulus senyummu yang abadiMenjadi jantung bagi anganku untuk kembali: indah sungguh segala pada […]

Continue Reading

Mata Mudik – Dieng

Oleh: Imron Rosyadi Mata Mudik Pandanganku sudah terlalu rabun untuk menatapkata-kata tak bertuan: hilir-mudik mencari gang-gang pulang. Barangkali rumahnya buku yang siap rapuholeh waktu: debu-debu lupa seperti kekasih amnesia, hanyamencintai satu bulan dan sering bergantiwarna dari merah, hijau, jingga, hingga luka. Entah apa percis warnanya, mataku sudah buta warna.Sedang, mata mudik buta rasatak dapat membedakan […]

Continue Reading

Sepanjang Pantura Brebes yang Tak Terduga dan Bisnis Pemakaman

Oleh: Imron Rosyadi Sepanjang Pantura Brebes yang Tak Terduga Sepanjang pantura Brebes ada lubang-lubang trauma danGelombang dukaKetika aku lewat, sawah asa gersangSejak usia menggenangDan segala riwayat tak bisa digugat: genggaman tanganmu yang tiba-tibaSegala syak-wasangka memasang mataAdakah sungai sudah tiba pada muara?Adakah jalan sampai ujungnya?Tapi hilir dan hulu Pemali samasekali jauhSejauh pandanganku melihat gerak bibirmuYang tak […]

Continue Reading

Di Tengah Pandemi Ini

Oleh: Imron Rosyadi Di Tengah Pandemi Ini Aku Ingin menulis puisi di tengah pandemi iniTanpa menghampiri inspirasiTiada kata-kataku berseliweran di jalan, kecualikabar di gorong-gorong selokanHanya terkungkung di sudut rumah, menjamurMerebakkan emosi tak karuan,Wabah layaknya klenik, suka sekali dinikmati tanpa juntrungan. Aku ingin menulis puisi di tengah darurat iniTapi puisiku akan selalu dihakimiKeluar tanpa alat pelindung […]

Continue Reading