Gegara Unggah Story Soal THR di Medsos, Guru Honorer Dikeluarkan dari Sekolah

Pendidikan
Dewan Pendidikan Brebes mendatangi SMP Negeri 1 Wanasari untuk meminta klarifikasi soal Guru honorer yang dinonjobkan.

BREBES, gugah.id – Seorang guru honorer atau guru tidak tetap (GTT) SMP Negeri di Kabupaten Brebes terkejut setelah dirinya dinonjobkan. Guru honorer ini menganggap dirinya dinonjobkan gara-gara mengunggah sebuah story di akun media sosialnya. Ia mengunggah soal tunjangan hari raya (THR) yang ia dapatkan dari pihak sekolah beberapa waktu lalu.

Hessal Hekmatyar, seorang guru honorer di SMP Negeri 1 Wanasari, Kabupaten Brebes mengaku kaget setelah dirinya mengetahui dinonjobkan oleh kepala sekolah. Hessal dinonjobkan sejak awal Juli kemarin dengan tidak lagi mendapatkan jatah jam mengajar di sekolah tersebut atau tepatnya dinoljamkan.

“Dari awal Juli ini dinoljamkan oleh kepala sekolah. Waktu unggah story terkait THR saya langsung dipanggil kepala sekolah dan katanya saya sudah tidak bekerja di sini (sekolah) lagi,” kata Hessal saat dikonfirmasi, Senin (12/7).

Hessal mengungkapkan, dirinya mengunggah story soal THR yang hanya menerima sebuah bingkisan berisi wadah (kotak) makan. Caption atau narasi dalam unggahan story di media sosial miliknya adalah “RIP THR“.

Hessal juga mencantumkan perbandingan harga wadah makan yang dibeli pihak sekolah untuk THR dengan harga di sebuah toko online. Usai dipanggil kepala sekolah, guru honorer ini pun tak mendapatkan jadwal untuk mengawas Penilaian Akhir Semester (PAT).

Ia pun kini bingung dengan keputusan dinoljamkan dirinya dari sekolah. Sebab, hingga kini belum ada keterangan tertulis dari pihak sekolah terkait nasib dirinya, apakah dikeluarkan atau akan mengemban tugas lain di sekolah tersebut.

“Karena waktu itu saya tidak boleh mengawal saat PAT, akhirnya saya minta rekan kerja saya sesama guru untuk mengambilkan lembar jawab siswa untuk saya koreksi dan saya nilai. Tapi yang mengambil berkas itu juga dimarahi oleh kepala sekolah,” lanjut dia.

Hessal mengaku per bulan mendapatkan honor mengajar sekitar Rp700 ribu per bulan. Jika jadwal mengajarnya dinoljamkan, maka dirinya meyakini tidak akan mendapatkan honor lagi. Sebab, hingga saat ini ia belum diberitahu oleh kepala sekolah akan nasib dirinya bekerja sebagai apa di sekolah tersebut.

“Saya tidak lagi mendapatkan tugas jam mengajar. Katanya saya sudah dikeluarkan oleh pihak sekolah. Terus tanpa konfirmasi juga, pihak sekolah sudah menyiapkan pengganti saya,” lanjut dia.

Hessal pun menyayangkan tindakan kepala sekolah yang tidak berupaya menyelesaikan persoalan dengan dirinya dengan cara lebih baik. Sebab, tanpa pembicaraan apapun saat dirinya dipanggil, kepala sekolah tiba-tiba meminta dirinya untuk berhenti mengajar. Kepala sekolah tak menanyakan apapun maksud dan tujuan dirinya mengunggah story yang dipersoalkan tersebut.

“Kondisinya lagi Covid-19 seperti ini tiba-tiba saya dikeluarkan, jelas saya menyayangkan hal itu,” ungkapnya.

Kepala SMP Negeri 1 Wanasari, Murniasih mengatakan, alasan dirinya mengeluarkan Hassel karena dianggap telah melanggar kode etik guru nomor 2 dan 7, yakni Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional; dan Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.

“Yang bersangkutan itu jarang masuk ke sekolah untuk mengajar. Anak-anak (siswa) itu sering ditinggalkan. Juga sopan santun dan tata kramanya tidak bisa dijaga dengan guru-guru yang lebih tua di sini,” katanya.

Murniasih mengungkapkan, Hassel mulai masuk untuk mengajar di SMP Negeri 1 Wanasari mulai Februari 2019. Ia mengajar mata pelajaran seni budaya selama 21 jam seminggu. Selain soal jarang mengajar, yang menjadi catatan sekolah ialah tidak memiliki tata krama terhadap guru lain yang lebih tua.

“Puncaknya itu setelah mengunggah story di WA dan Facebook terkait harga bingkisan THR. Kotak makan yang kami beli itu harganya Rp98.500 dibandingkan dengan harga di toko online Rp75.000. Itu diunggah di media sosial. Unggahan itu jelas tidak sopan. Selain bingkisan itu juga kami beri bingkisan THR berupa paket sembako senilai Rp150 ribu untuk guru-guru,” ungkapnya.

Terkait THR tersebut, lanjut Murniasih, sebelumnya sudah dimusyawarahkan dengan guru-guru lain, dan disepakati THR dalam bentuk barang, bukan uang tunai. Terkait Hassel dinoljamkan juga sudah dirapatkan dengan guru-guru dengan berbagai pertimbangan dan masukan.

Murniasih mengakui jika penghentian Hassel disampaikan melalui lisan. “Kalau PNS itu memang yang mengentikan itu negara. Kalau ini GTT jadi kebijakan oleh kepala sekolah atas masukan dari guru-guru. Jadi ini hak prerogatif kepala sekolah, sehingga tidak perlu tertulis,” pungkasnya. (*)

Leave a Reply