Harga Bawang Merah Anjlok di Tingkat Petani, Ini Biang Keroknya!

Nasional Pertanian
Sejumlah buruh mbutik di lapak bawang merah di Kabupaten Brebes tengah membersihkan bawang merah. (foto: Mahesa)

BREBES, gugah.id – Ekspansi pengembangan bawang merah di daerah lain berdampak pada harga bawang merah saat terjadi panen raya. Harga bawang merah turun drastis saat terjadi panen raya di sejumlah daerah sentra baru. Saat ini Kabupaten Brebes juga bukan satu-satunya sentra bawang merah. Banyak daerah yang menjadi sentra baru bawang merah.

Ekspansi pengembangan bawang merah ini juga berimbas pada prosentase pasokan kebutuhan bawang merah nasional. Kabupaten Brebes yang awalnya menyangga 30 persen kebutuhan bawang merah nasional, saat ini hanya bisa menyumbang 20 persen kebutuhan bawang merah nasional.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Brebes Yulia Hendrawati saat ditemui di Pendopo Brebes, Kamis (18/11/2021) mengatakan, harga bawang merah anjlok karena saat ini sejumlah daerah sentra baru tengah memasuki masa panen raya. Kondisi ini memengaruhi turunnya harga bawang merah di tingkat petani.

“Sekarang semua panen jadi harganya turun. Ini berarti mereka berbudidayanya bersama-sama. Itu sudah menjadi hukum pertanian. Kalau produksi tinggi dan permintaan tetap berarti harganya turun,” kata Yulia.

Ia menyebutkan, saat ini biaya produksi bawang merah di Kabupaten Brebes sangat mahal. Hal ini karena selama ini para petani bawang merah menggunakan pestisida dengan dosis yang berlebihan. Kondisi ini juga yang membuat para petani memilih menanam bawang merah di luar daerah, seperti di Majalengka, Pemalang, dan wilayah lainnya.

“Petani di Brebes selalu menanam bawang merah dengan penggunaan pestisida yang tinggi, sehingga merusak unsur hara tanah. Akibat penggunaan pestisida yang terus-menerus ini membuat lahan menjadi kritis untuk penanaman bawang merah,” lanjut dia.

Kemudian, organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama juga menjadi kebal karena sering disemprot pestisida. Hal ini juga membuat biaya produksi bawang merah menjadi mahal. Akhirnya para petani memilih melakukan ekspansi pengembangan bawang merah di daerah lain yang kondisi tanahnya minim terkontaminasi pestisida. Sehingga biaya produksi pertanian ini lebih rendah ketimbang di Brebes.

“Di luar daerah biayanya lebih rendah. Break Event Point (BEP) atau biaya impas lebih rendah,” ungkapnya.

Ditambah lagi, lanjut Yulia, banyak petani bawang merah di Brebes yang menanam bawang merah di luar pulau Jawa, seperti di Sulawesi, Kalimantan, dan Lampung. Lantaran secara geografis lahan di wilayah tersebut berpotensi untuk penanaman bawang merah, petani asal Brebes tersebut akhirnya digandeng pemerintah daerah setempat untuk belajar penanaman bawang merah di Brebes.

“Daerah-daerah yang belajar bawang merah ke Brebes, ternyata di sana sudah ada orang Brebes yang menanam bawang merah. Di Lampung contohnya, ternyata yang menanam bawang merah orang Brebes. Petani dan pemerintah daerah setempat datang ke sini untuk belajar,” ungkapnya.

Yulia mengaku, untuk mengatasi harga bawang merah yang anjlok setiap memasuki panen raya, pihaknya telah meminta pemerintah pusat untuk membatasi pengembangan budidaya bawang merah di luar daerah. Hal ini untuk menstabilkan harga saat terjadi panen raya di berbagai daerah.

“Paling idak, masa tanam bawang merah di berbagai daerah itu jangan berbarengan. Harus diatur masa tanamnya di masing-masing daerah. Karena perluasan kawasan atau ekspansi pengembangan bawang merah ini berdampak pada harga yang anjlok saat panen raya,” pungkasnya. (mah)

Leave a Reply