Kenalin Nih, Metode Sunat Terbaru di Brebes Tanpa Rasa Sakit

Kesehatan
Wakil Ketua MPC Pemuda Pancasila Brebes, Endang Yuniarti memeluk anak kurang mampu yang baru saja dikhitan menggunakan metode super ring. (foto: Istimewa)

BREBES, gugah.id – Puluhan anak dari kalangan kurang mampu di Kabupaten Brebes mengikuti sunatan massal yang digelar dalam rangka HUT Sumpah Pemuda ke 93 dan HUT Pemuda Pancasila ke 62 tahun 2021 , di Rumah Sakit (RS) Bhakti Asih Brebes, Minggu (31/10/2021).

Anak-anak yang disunat massal gratis ini juga ditemani orangtuanya. Saat itulah satu per satu terdengar suara tangis dan teriakan peserta sunatan massal. Tak jarang teriakan kesakitan anak-anak ini bikin keluarga lain tersenyum. Bahkan ada yang tertawa dengan aksi spontan mereka, meski mereka sebenarnya baru mau akan disunat oleh tim medis.

Ketua panitia sunatan massal Wijayanto mengatakan, untuk metode yang digunakan dalam proses pelaksanaan sunatan masal ini mengunakan teknologi terbaru yang biasa disebut sunat super ring.

“Metode sunat yang digunakan dalam pelaksanaan khitanan massal dengan jumlah 36 anak ini, kita mengunakan metode super ring,” katanya.

Pria yang juga mantri sunat ini menyebut, di Kabupate Brebes sendiri masih banyak yang belum mengetahui sunat super ring. Yaitu salah satu metode menggunakan ring (cincin dari bahan plastik) yang disematkan, tanpa jahit dan anastesinya tidak pakai suntik.

“Keunggulan dari sunat super ring ini, adalah proses khitan lebih cepat, aman tanpa jahitan, dan tanpa verban dan alat lainnya yang menempel,” ungkapnya.

Baca Juga:

Sunat super ring dimulai dengan anastesi. Menurutnya, anastesi dalam proses sunat ini memakai salep bius, tanpa jarum suntik. Jadi, aman untuk anak yang mempunyai ketakutan terhadap jarum suntik.

“Anak yang baru disunat juga bisa langsung beraktivitas seperti biasa. Seperti yang tadi sudah diperagakan, bisa langsung lari-lari, loncat-loncat, main sepak bola maupun bersepeda juga boleh. Untuk anak yang baru disunat mengunakan sunat dengan metode modern ini tidak usah takut air, karena malah diharuskan mandi,” jelasnya.

Wijayanto menceritakan, setiap anak yang disunat menunjukkan ekspresi berbeda. Ada yang menangis, berontak, menjerit, hingga untuk mengurangi rasa takut dan mengalihkan ketakutannya dengan bermain game menggunakan handphone orangtuanya.

“Awalnya peserta sunatan massal ini, ada yang menangis, berontak, menjerit, hinggga main game. Makanya kita memberi pengertian orangtuanya untuk memberikan semangat kepada anak anaknya,” tutur Wijayanto.

Peserta yang berjumlah 36 anak ini, merupakan anak anak dari kalangan tidak mampu, khusunya orang tuanya yang ekonominya tengah merosot akibat dampak pandemi Covid-19.

Wijayanto juga menambahkan untuk sunatan massal yang disponsori oleh Badan Kesehatan Penanggulangan Bencana (BKPB) Kabupaten Brebes, menggunakan cara sunatan model super ring, yang memiliki keunggulan tanpa menggunakan jarum suntik, tidak diperban dan anak bisa bermain seperti biasanya.

“Jadi anak anak yang dikhitan, memakai cara sunatan masal model super ring, dimana tanpa mengenakan jarum suntik, laser dan lainnya, tanpa harus diperban. Sehingga anak anak usai dikhitan tidak merasakan sakit, tanpa rasa sakit, dan bisa beraktivitas sediakala,” tandasnya. (mah)

Leave a Reply