Kesulitan Air, Petani di Brebes Pakai Air Comberan

Pertanian
Kesulitan Air, Petani di Brebes Pakai Air Comberan
Petani di Kelurahan Gandasuli, Brebes memanfaatkan air comberan.

BREBES – Petani di Kabupaten Brebes terpaksa memanfaatkan air limbah atau air comberan untuk mengolah sawahnya, Rabu (5/8). Penggunaan air comberan yang berwarna hitam pekat ini terpaksa dilakukan oleh petani di Kelurahan Gandasuli, Kota Brebes. Puluhan petani di wilayah itu memanfaatkan air comberan untuk menyiram tanaman bawang merah.

Salah seorang petani, Mustofa mengungkapkan, para petani terpaksa memanfaatkan air comberan karena kesulitan mendapatkan air untuk mengolah sawahnya. Tercatat ada sekitar 25 petani yang terpaksa menggunakan air comberan itu untuk puluhan hektar sawah. Petani mengakui bahwa penggunan air comberan tidak baik untuk tanamannya.

“Kalau menggunakan air comberan ini dampak ke tanaman jelas kurang sehat dan pertumbuhannya agak kerdil. Ada biaya tambahan untuk pengobatan karena menggunakan air comberan,” kata Mustofa saat ditemui di sawahnya, Rabu (5/8).

Dia menuturkan, pemggunaan air limbah ini dilakukan dengan cara menyedot air comberan menggunakan pompa air di sungai Sigeleng. Untuk bahan bakarnya, petani harus mengeluarkan biaya lebih untuk 3 liter BBM yang digunakan per harinya. Sehingga, pada masa tanam ini petani mengaku untung tipis. Hal ini karena petani harus mengeluarkan biaya produksi lebih besar.

Terkait dengan perhatian dari pemerintah, Mustofa mengaku, petani di wilayahnya sudah mendapatkan bantuan sumur pantek di 7 titik untuk mengatasi kekurangan air saat musim kemarau.

Namun, dari pembuatan sumur itu mengeluarkan air asin. Sehingga tidak cocok untuk pertanian. Hal ini kemudian membuat petani terpaksa menggunakan air comberan.

“Ada bantuan sumur pantek di 7 titik tapi yang keluar airnya asin. Tidak cocok untuk pertanian. Pemanfaatan air comberan ini juga sudah dilakukan para petani sejak lima bulan lalu,” tambahnya.

Petani lain, Daklan mengaku harus mencari sumber air untuk mengairi tanaman bawangnya yang sudah berusia 40 hari. Petani di wilayahnya mencari sumber air menggunakan pompa diesel yang dipasang di pinggir sungai dan irigasi. Sementara, irigasi yang melintas di areal persawahan itu nampak kering.

“Sudah selatu bulan ini kesulitan air. Biasanya ambil di irigasi menggunakan pompa diesel. Tapi sudah beberapa hari irigasinya sudah kering,” kata Daklan.

Kepala Bidang Irigasi dan Pengairan DPSDA-TR Brebes, Nurul Hidayat mengatakan, kesulitan air di musim kemarau merupakan siklus alam. Namun demikian, pihaknya berupaya untuk melakukan mengatasi masalah petani tersebut. Pihaknya melakukan sistem gilir air irigasi melalui para UPT Pengairan di masing-masing wilayah.

“Ini memang siklus alam dan tidak bisa dipungkiri. Untuk persediaan air di sumber-sumber yang ada juga sudah menipis,” pungkasnya. (red)

Leave a Reply