Menilik Komoditas Perniagaan Tempo Doeloe di Brebes

Kolom Sejarah
PG Djatibarang 1926 bukti kejayaan industri perkebunan di Brebes (foto: koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen)
Oleh: Wijanarto (Sejarawan)

Dalam catatan sejarah, banyak menyebutkan soal Pelabuhan Tegal dicatat sebagai pelabuhan penting yang mengirimkan barang barang komoditas laik jual dan strategis.

Seperti dikuatkan penulisan tesisnya Alamsyah, Perkembangan Perkebunan dan Pelabuhan di Karesidenan Tegal 1830-1900 (2000), menyebutkan bahwa sejak tahun 1840 beberapa barang yang dikirim melalui pelabuhan Tegal diantaranya padi, beras, teh, lada, kopi, indigo, gula, kapas, pala, gambir, ikan asin, kemenyan, kacang-kacangan, kain tradisional hingga mentega. Dan di tahun 1871 masih dari data Alamsyah (2000 : 186), terdapat beberapa komoditi baru seperti kertas, obat-obatan, kain sutera, rokok, tembakau, kayu manis dan kayu balok.

Ada beberapa faktor yang menjadikan pelabuhan Tegal marak dengan perniagaan laut. Salah satumya adalah kebijakan pemerintah Hindia Belanda menjadikan Pelabuhan ini sebagai pelabuhan ekspor dan pelabuhan bebas di tahun 1859 melalui keputusan Staatsblad Nomor 65 Tahun 1858 dan Staatsblad Nomor 79 Tahun 1859.

Arti pelabuhan bebas sendiri merupakan pelabuhan dimana aktivitas barang dan jasa tidak hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga pihak partikelir (swasta). Berikutnya wilayah pelabuhan Tegal didukung oleh kawasan hinterland yang menghasilkan komoditas bernilai ekspor dan memasok barang perniagaan melalui pelabuhan Tegal. Beberapa wilayah hinterland itu diantaranya pedalaman Tegal dan Brebes.
      
Regentschaap Brebes dikenal memasok komoditas hasil perkebunan seperti kopi, teh,  indigom gula dan kayu balok jati. Tentang hasil kayu jati sejak awal abad XVII, VOC mendapatkan hak atas pengelolaan hutan jati dan mendirikan pusat-pusat pengepulan kayu jati di wilayah Jepara, Brebes, Weleri, Rembang dan Pekalongan.

Dari studi Peter Boomgaard, Kooiman, D. Nordholt, H.S. Linking Destinies: Trade, Towns and Kin in Asian History (2008), perniagaan dan pengiriman kayu tetap menjadi bagian penting dari hubungan antara VOC-Mataram.

Lebih jauh studi itu mencatat kawasan hutan yang dijadikan sebagai tempat bagi VOC pertama kali memperoleh kayu adalah di Jepara, Rembang, Pekalongan, Waleri, dan Brebes.Perjanjian yang dibuat pada tahun 1677, 1705, dan 1733 mengatur tentang jumlah kuota kebutuhan kayu jati dalam jangka waktu tahunan untuk dikirim ke pos-pos pesisir Kompeni.

Mulai tahun 1733 kebutuhan kayu jati dari Demak ditetapkan sebanyak 5.000 buah balok, Weleri 2.000 buah balok, Brebes 1.500 buah balok, dan Jepara, 2.000 buah balok besar dan 2.000 buah balok kecil.

Kuota kayu yang diambil ditentukan oleh perkiraan luas hutan pemasok dan kelayakan pengangkutan kayu ke pantai dengan cara ditarik kerbau. Sementara itu masyarakat hanya diperbolehkan menjual beberapa balok jati atau dipergunakan untuk membuat kapal memenuhi kepentingan nelayan pribumi maupun kapal-kapal Belanda.

Hasil riset Peluso, Rich Forests, Poor People: Resource Control and Resistance in Java  (1992) mencatat, masyarakat pedesaan dan bupati tetap memiliki hak menebang kayu yang mereka butuhkan untuk kebutuhan hidup atau untuk membangun perahu mereka sendiri. Pada awal abad XVIII pengolahan kayu semakin modern di Brebes dengan menggunakan penggergajian kayu bertenaga angin.

Sebagaimana dikutip dari kajian Indra Fibiona dan Yustina Hastrini Nurwanti , Pasang Surut Pelabuhan Perikanan Kluwut Kabupaten Brebes Jawa Tengah Tahun 1900an Hingga Sekarang (2021), wilayah penghasil Jati terutama di Kabupaten Brebes antara lainHutan Sirekot, Pagerajoe, Sigentong, Goenongtenga, Angajassa, Loewangwalang, Sibenkok, Tjeuangsubang-wetan, Djodjowetan, Kalimoepoe, Sirandoe, Djsdjakkoelon, Tienangsebang-Koelon, Kedungbokor, Sidjati dan Liantjol.

Selain itu di wilayah Distrik Losari antara lain hutan Djatidongkal, Djatiboenkoes, Langkoban, Goenungsuwur, Kasub, Litjab√©, Groedyugan, Goenoengpilang, Kepeklontjer, Goenungtenga, Kubangsarijan, Lisadap, Liemoctjek, Silemboe, dan Goenung-kepoeh. 

Di wilayah distrik Boemiajoe yaitu hutan Kloewoet, Kebondalem, Boetugeret, Mentengeng, Wishar, Octanwangie, Djlengoet, Lara-brangti, Kali-loemping, Sepet, Djatilawang, Bocknsarie, Rantjapoetjoeng, Kalibanteng dan Radjekwessie Distrik Labaksioe hutan Redjie-Balapoeleng, Redjie-Bandjaranyelir, Limbangan, Palungan, Boe Ludjadjar, Djatilawang, Danaradja dan Kaliegandu. Kayu-kayu jati yang dihasilkan beberapa wilayah di Brebes tersebut kemudian diperbanyak hingga mencukupi kuota kebutuhan terutama di beberapa hutan jati di karesidenan Tegal.

Saat kejayaan industri gula, wilayah Brebes memgirimkan hasil komoditi tersebut ke pelabuhan Cirebon dan pelabuhan Tegal.  Untuk areal tanaman tebu sebagai bahan baku gula jenis tanah sewaam di Tegal dan Brebes tahun 1890 mencapai 2.852 hektar (lihat William J O Malley, 1988 : 207). Beberapa pabrik gula yang berdiri sejak tahun 1840 hingga akhir abad XIX diantaranya Djatibarang, Lemah Abang Losari, Ketanggoengan Barat (Kersana). Baru awal abad XX muncul Banjaratma.

Tanaman kopi, teh, nila dan cengkih patut disebut sebagai komoditas perkebunan primadona pelabuhan Tegal yang disokong dari Brebes. Keseluruhan komoditas tersebut dihasilkan di Brebes Tengah dan Brebes Selatan. Sebut saja tanaman kopi dibudidayakan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1882 di wilayah Salem.

Setidaknya itu dinukilkan dalam catatan perjalanan Bupati Brebes Aria Tjandranegara IV ke Gunung Sagara dan dituliskan kembali oleh Frederick Karel Holle serta dimuat dalam Tidjdschrift Indische Taal Land en Volkenkunde Edisi Tahun 1884. Dari dengan luas tanaman 1,114,539 bouwen (1 bouw setara 0,70 ha hingga 0,74 ha) dan menghasilkan panen sekitar 1242,51 pikols (1 pikul setara 60,4  kg). Maka jika sekarang ini muncul kopi Capar Salem, merupakan hasil budi daya kolonial tahun 1882. Namun data sejarah menuliskan bahwa sejak tahun 1852 sudah ada 4.804.578 pohon di Brebes Selatan. (RE Elson, 1994 : 70).

Selain Salem, budi daya tanaman kopi menjalar ke Paguyangan hingga Sirampog. Kopi kopi Brebes Selatan dikapalkan untuk dikirim ke Amsterdam dan Eropa. Disamping indigo atau nila teh dan cengkih di wilayah tersebut. Konsentrasi produksi tanaman teh di Brebes ada di wilayah Kaligua Paguyangan. Yang menarik sejak tahun 1870 di Brebes tepatnya di Bumiayu terdapat areal perkebunan tembakau yang dikelola oleh OI Maataschappij van Administratie Lijfrente Smits. Bumiayu juga mencatatkan berdirinya pabrik tepung tapioka yang dikelola NV Hoo Gwan.

Dari risalah sejarah ternyata wilayah Kabupaten Brebes memiliki komoditas perniagaan yang berjaya bahkan menjadi primadona dunia. Jika kemudian sekarang ini dicap sebagai wilayah yang memiliki indeks kemiskinan ekstrem, apa yang salah atau keliru. Monggo dengan melongo laci laci sejarah kita bisa memetakan apa yang keliru atau kurang. Sejarah selalu aktual.


Wijanarto, pecinta sejarah sepenuh hati.

Leave a Reply