Ngeri Bos! Kena Abrasi, Tiap Tahun 30 Meter Daratan Brebes Hilang Tenggelam

Ekonomi Nasional Peristiwa
Seorang warga pesisir di Kabupaten Brebes mencari penghidupan di pinggiran laut untuk mencari kerang. (foto: Mahesa Bagaskara)

BREBES, gugah.id – Warga pesisir selalu menggantungkan hidupnya di sektor kelautan. Banyak dari mereka pula yang menjadi sebagai petani tambak untuk menopang hidupnya. Namun, seiring adanya pemanasan global (global warming), harapan mereka mulai tenggelam.

Pengikisan garis pantai Kabupaten Brebes akibat gelombang dan pasang air laut kian mengkhawatirkan dan mengancam kehidupan warga pesisir. Setiap tahun, abrasi garis pantai ini telah menghilangkan daratan pesisir sekitar 30 meter.

Daratan yang tenggelam adalah ribuan hektar tambak milik warga. Bahkan ada beberapa rumah milik warga yang terendam air laut akibat banjir rob yang setiap hari mengintai pemukiman.

Tercatat, ada sekitar 3000 hektar lahan tambak di pesisir utara Brebes, hilang terkikis air laut atau abrasi. Kerusakan hutan pantai dan global warming menjadi penyebab fenomena alam tersebut. Persoalan abrasi ini sudah berlangsung selama puluhan tahun. Sudah banyak lahan tambak warga yang hilang akibat abrasi.

Seorang pemilik Tambak, Iswanto bersama Kepala Desa Randusanga Wetan, dan seorang Babinsa menunjukkan dampak abrasi yang merusak puluhan hektar tambak.  “Alam sudah bekerja dengan sendirinya, kita bisa apa,” kata Iswanto, Kamis (14/10/2021).

Serombongan ini menaiki perahu yang disewa kepala desa. Rombongan menyisir garis pantai Randusanga menaiki perahu, menyaksikan deburan ombak menghantam daratan. Banyak tanaman mangrove sebagai pagar laut yang rusak. “Di sini seharusnya dibuat pemecah gelombang,” lanjut Iswanto menunjukkan kerusakan garis pantai.

Ia menceritakan, dirinya tidak bisa lagi menggarap tambak miliknya akibat tenggelam kena abrasi. Separuh dari tambak miliknya seluas 6.500 meter persegi hilang akibat abrasi sejak tahun 2015 silam. Pasir laut memasuki area tambak, sehingga tambak tidak bisa dikelola.

“Tahun 2015 itu mulai terjadi abrasi yang sangat parah sampai sekarang. Dulu jarak tambak saya dari bibir pantai itu kurang lebih 200 meteran karena bisa untuk main bola dan sebagainya. Tapi sekarang tambak saya sudah hilang,” ungkap Iswanto.

Babinsa Randusanga Wetan menunjukkan rumah yang terendam air rob dan ditinggal penghuninya sejak lima tahun lalu. (foto: Mahesa Bagaskara)

Kepala Desa Randusanga Wetan, Swi Agung Kabiantara mengungkapkan, sampai saat ini ada sekitar 50 hektar tambak milik warga yang hilang di desanya. Ditambah sekitar 250 hektar tambak rusak tidak bisa dikelola akibat abrasi. Sehingga, dari total 450 hektar tambak di desanya, saat ini hanya tersisa kurang lebih 150 hektar.

Selain menghilangkan dan merusak ratusan hektar tambak di desanya, banjir rob juga membuat beberapa rumah pemukiman warga terendam air laut. Rumah yang terendam adalah rumah milik warga yang letaknya lebih rendah saat air laut pasang. Beberapa penghuni rumah terpaksa meninggalkannya.

“Rumah Pak Giyanto, misalnya. Rumah itu sudah ditinggal pemiliknya sejak lima tahun lalu, karena sering terendam air rob. Beberapa rumah di sini sudah ditinggikan untuk menghindari banjir rob,” kata Swi Agung Kabiantara usai menaiki perahu yang kemudian menunjukkan rumah warga yang terendam.

Dia mengungkapkan, daratan pesisir yang hilang ialah mulai dari perbatasan Kota Tegal membentang ke desanya hingga satu kilometer. Sedangkan pengikisan daratan terjadi antara sampai saat ini antara 50 hingga 100 meter. Dampak dari abrasi tersebut adalah terkait perekonomian warga  yang kehilangan dan mengalami kerusakan tambak.

“Per tahun daratan kita yang hilang itu sekitar 30 meter dikali panjangnya sekitar satu kilometer karena abrasi. Dikhawatirkan lambat laun abrasi ini bisa sampai di pemukiman. Jadi kami berharap ada solusi konkret seperti pembangunan pemecah gelombang seperti di Kota Tegal. Di Kota Tegal pesisir pantainya masih utuh,” ungkapnya.

Hilangnya daratan akibat tergenang air laut ini sudah menjadi ancaman nyata warga di wilayah pesisir utara Kabupaten Brebes. Dari tahun ke tahun, proses alam ini masih terus berlangsung hingga kini. Bahkan di sejumlah wilayah, proses abrasi ini makin parah. Terjangan air laut semakin menjadi dan mengancam lahan lahan milik penduduk setempat.

“Sejak lima tahun ini makin parah abrasinya. Tapi dari pemerintah belum ada penanganan yang serius. Di sini belum ada gugusan pemecah gelombang, jadi ini sangat mengancam kehidupan kami di pesisir,” ungkapnya.

(Tim Infografis gugah.id)

Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Dinas Perikanan Brebes, Iskandar Agung menyebut, luas lahan tambak di Brebes mencapai 12 ribu hektar. Lahan tambak ini berada di 13 desa di lima kecamatan pesisir, masing masing; Brebes, Wanasari, Bulakamba, Tanjung dan Losarri. Akibat terkena abrasi sejak tahun 1985, sekitar 3000 hektar di antaranya sudah rusak alias tergenang air laut.

“Sekitar 3000 hektar dari 12 ribu lahan tambak di wilayah pesisir utara sudah rusak. Dari lima kecamatan yang terdampak, tiga kecamatan, masing masing Brebes, Wanasari dan Losari merupakan yang terparah,” tutupnya. (mah)

VIDEO SELENGKAPNYA:

SELENGKAPNYA | ABRASI ANCAM BREBES, TIAP TAHUN 30 METER DARATAN BREBES HILANG

Leave a Reply