Puluhan Pohon di Makam Desa Bulakelor Ditebang dan Dijual, Warga Lapor Polisi

Peristiwa
Warga menunjukkan bekas penebangan pohon di komplek pemakaman Desa Bulakelor, Ketanggungan. (foto: Istimewa)

BREBES, gugah.id – Puluhan pohon berukuran besar di komplek pemakaman Desa Bulakelor Kecamatan Ketanggungan, Brebes ditebang oknum warga. Warga lainnya pun memprotes penebangan itu dan melaporkan oknum tersebut ke polisi.

Pelaporan dilatarbelakangi karena penebangan itu tidak melalui musyawarah. Bahkan, hasil penjualan kayu pohon itu dianggap tidak wajar.

Warga yang melaporkan perkara ini adalah Casnadi (50), warga desa setempat. Dia mengungkapkan, penebangan pohon di komplek makam itu dilakukan bulan Agustus 2021. Perkara ini pun dilaporkan ke Polres Brebes pada bulan yang sama.

Baca Juga: 
Bupati Serahkan Bibit Pohon, Peringati Hari Kebersihan Dunia
Agrowisata Kaligua, Permadani Hijau Di Lereng Gunung Slamet

Selasa (4/1/2022) dirinya berama Ruslim, perwakilan warga lainnya mendatangi Mapolres Brebes untuk menanyakan kelanjutan laporan.

“Kami protes karena penebangan pohon ini tidak dimusyawarahkan dulu dengan warga. Hasil penjualan kayunya juga tidak wajar. Karena dari semua pohon yang jumlahnya hampir seratusan hansilnya hanya Rp.15 juta,” kata Casnadi.

Casnadi mengungkapkan, sedikitnya ada 16 pohon Albasiah ukuran besar yang ditebang. Kemudian sekitar 50an pohon Joar, dan 8 pohon randu serta 2 pohon serut.

Semua pohon itu ditebang dan kayunya dijual oleh warga yang dianggap sebagai orang kepercayaan pemerintah desa setempat. Sehingga, saat ini kondisi komplek makam cukup panas. Kondisi ini pun dikeluhkan warga peziarah.

“Sekarang kondisinya panas dan dikeluhkan warga. Kalau takziyah atau ziarah warga kepanasan. Nggak kaya dulu rindang, adem,” ungkap dia.

Dia menceritakan, penebangan pohon yang dilakukan oleh oknum warga ini tidak melalui musyawarah dengan warga seperti yang dilakukan sebelumnya.

Casnadi mengungkap, dulu penebangan pohon dilakukan dengan cara musyawarah dan hasil penjualan kayunya diketahui warga yang akhirnya disepakati untuk pembangunan pondasi madrasah diniyah.

“Dulu untuk delapan pohon Albasiah itu hasil penjualannya sampai Rp.22,5 juta. Uang itu untuk pembangunan pondasi madrasah dengan kesepakatan warga,” tutur Casnadi.

Baca Juga:
Telaga Ranjeng, Cagar Alam Di Kaki Gunung Slamet Ini Dikeramatkan

Warga lain, Ruslim mengatakan, dirinya mewakili warga lain yang protes penebangan pohon tersebut. Setelah mendatangi petugas Polres Brebes, dirinya menunggu pemanggilan untuk dilakukan gelar perkara atas kasus tersebut. Dari keterangan penyidik yang ia dapat, penanganan laporan ini masih terus dilanjutkan.

“Yang namanya warga pasti menanyakan bagaimana kelanjutan laporannya. Jadi kami mendatangi Polres Brebes untuk menanyakannya,” kata Ruslim.

Sekretaris Desa Bulakelor, Ikhwan pun enggan mengomentari panjang lebar terkait masalah tersebut. Dia mengatakan, penebangan pohon di komplek pemakaman itu dilakukan oleh Karang Taruna desa setempat.

Menurutnya, penebangan puluhan pohon itu sudah dilakukan sejak lama dan diketahui oleh pemerintah desa. Kemudian, setelah ditebang, kayu dari pohon itu dijual.

“Yang melakukan penebangan itu Karang Taruna dan dijual. Tapi lebih jelasnya ke Kepala Desa saja konfirmasinya,” kata Ikhwan.

Sementara itu, Kepala Desa Bulakelor, Adelia hingga kini belum bisa dikonfirmasi. (mah)

Leave a Reply