Soal G30S/PKI, Wijanarto: Rawat Ingatan dengan Menuliskan Narasi Sejarah

Peristiwa Sejarah
Sejarawan Brebes, Wijanarto bersama Wahyudin Noer Aly saat menjadi narasumber dalam kegiatan nonton bareng film G30S/PKI.(foto: Dedy Agustian)

BREBES, gugah.id – Sejarawan Pantura asal Brebes, Wijanarto mengungkapkan, sebagian anak muda di Kabupaten Brebes masih kurang memahami dengan wawasan sejarah. Mereka masih minim memahami sejarah, termasuk terkait pergerakan kelompok kiri yang melakukan pemberontakan seperti Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Supaya tidak terjadi keterputusan sejarah tentunya harus ada upaya untuk membaca dan menulis sejarah. Bagaimana sebuah peristiwa itu tidak mudah dilupakan? Saya bagian dari pemerintah, tetapi setiap ada upaya mengaktualisasikan diri saya untuk menulis. Saya menulis, ketika tidak semua orang bisa menuliskan catatan-catatan sejarah,” kata Wijanarto saat menjadi narasumber dalam kegiatan nonton bareng film G30S/PKI, Kamis (30/9/2021).

Wijanarto mengungkapkan, riwayat tentang peristiwa yang terjadi berkenaan gerakan komunis (PKI) bisa saja akan hilang ketika tidak ada upaya untuk mencatatkan atau menuliskannya. Menurut Wijanarto, upaya untuk mencatatkan sejarah merupakan upaya agar generasi muda bisa lebih memahami sejarah.

“Banyak yang tanya mengapa tempat-tempat bersejarah di Brebes seperti di jembatan Pemali gantung di Desa Wanacala, Songgom tidak dibuatkan monumen. Padahal di tempat itu terjadi penumpasan anggota dan simpatisan PKI. Saya sendiri sebagai sejarawan hanya bisa menuliskan catatan-catatan sejarah,” tambahnya.

Peristiwa yang terjadi di suatu tempat, menurut Wijanarto, semestinya dikenang dan ditulis agar bisa menjadi sejarah yang tidak mudah untuk dilupakan. Dia beranggapan, ada banyak cara merawat ingatan sejarah. Cara untuk menghubungkan masa lalu dengan masa kini adalah dengan mendokumentasikan, mencatatkan, dan mendiskusikan.

“Nilai-nilai sejarah bisa menjadi pembelajaran bagi generasi muda. Cara menghubungkan masa lalu ini bisa juga didiskusikan seperti pada malam ini,”  tandasnya.

Baca Juga:

Sementara itu, untuk mematik ingatan terkait peristiwa 30 September 1965, Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Kabupaten Brebes menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film karya sineas Arifin C Noer.

“Bukan hanya nobar, ini ada diskusinya. Kita merasa prihatin, peristiwa pada tanggal 30 September ini bahkan kelihatannya banyak yang sudah lupa bahwa pada tanggal 30 September 1965 terjadi tragedi besar terhadap bangsa Indonesia,” kata Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Brebes Wahyudin Noor Aly di Kedai Musim Semi, Jalan Ahmad Yani, Brebes.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah yang akrab disapa Bung Goyud ini menyatakan terkait peristiwa yang tengah terjadi sekarang. Di mana, menurutnya, untuk sekedar memasang bendera setengah tiang saja harus di instruksikan. Bahkan mirisnya, masih banyak warga yang tidak memasang bendera setengah tiang.

“Kami sebagai unsur di mana salah satu slogan kita adalah Pancasila abadi, pada malam ini kita lakukan nobar dan mendiskusikan kembali untuk mengingatkan bahwa pada tanggal 30 September 1965 bangsa ini memiliki sejarah kelam,” ungkapnya. (gust)

Leave a Reply