Mata Mudik – Dieng

Oleh: Imron Rosyadi Mata Mudik Pandanganku sudah terlalu rabun untuk menatapkata-kata tak bertuan: hilir-mudik mencari gang-gang pulang. Barangkali rumahnya buku yang siap rapuholeh waktu: debu-debu lupa seperti kekasih amnesia, hanyamencintai satu bulan dan sering bergantiwarna dari merah, hijau, jingga, hingga luka. Entah apa percis warnanya, mataku sudah buta warna.Sedang, mata mudik buta rasatak dapat membedakan […]

Continue Reading