Tak Dianggap Daerahnya, Ini Perjalanan Arya Kris Sang Desainer Kondang Asal Brebes

Nasional
Arya Kris (Ahmad Taufik) sang fashion designer. (foto: dokumen pribadi)

BREBES, gugah.id – Arya Kris, desainer kondang asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah mengawali karirnya di tahun 2004. Saat itu, pria bernama Ahmad Taufik (37) menjadi tukang pel di kediaman designer kondang asal Brebes, Tampo Wiryadi.

Kini, brand Arya Kris Kebaya sudah melenggang di panggung ajang Internasional Miss Tourrism and Culture 2017.

Arya Kris yang belajar secara otodidak ini hanyalah seorang lulusan sekolah dasar. Namun pria mampu menghasilkan karya-karya hebat.

Kebaya hasil rancangannya ini mampu bersaing dengan karya desainer kondang dari seluruh penjuru tanah air. Bahkan, karyanya sering membalut tubuh artis Ibukota.

Arya Kris bersama model yang mengenakan kebaya karyanya.

Saat awal meniti karir di bidang tatabusana, dengan ketekunan dan keuletannya dia belajar dari mulai menggunting lurus, memotong pola, sampai menjahit. Dedikasi dan baktinya pada sang guru, Tampo Wiryadi membawanya menjadi asisten pribadinya, sehingga bisa seperti sekarang ini.

Sayangnya, semua prestasi yang telah diraih warga Desa Pebatan Kecamatan Wanasari ini harus dibayar kecewa lantaran dirinya merasa tak dianggap oleh pemerintah daerahnya.

Ia mengaku telah berkali-kali dikecewakan Pemkab Brebes. Terutama saat agenda penting Kabupaten Brebes, seperti perayaan Hari Jadi Brebes, pemilihan Duta Wisata, dan agenda penting lainnya.

Arya Kris merasa tak pernah dilibatkan dalam agenda tersebut. Bahkan Pemkab Brebes lebbih memilih desainer dari luar daerah untuk terlibat dalam ajang pemilihan Duta Wisata (Sinok-Sitong) dan lainnya.

Bahkan, saat ada karnaval di Brebes, Duta Wisata sama sekali tak diperhatikan. Sehingga, dirinya dengan tulus membantu Duta Wisata saat pelaksanaan karnaval.

“Pemkab selalu pakai designer entah siapa dan dari mana, yang pasti bukan dari Brebes. Ksususnya untuk malam final Duta Wisata Brebes saat itu. Padahal ada anggaran, tapi yang disayangkan kenapa tidak libatkan potensi lokal. Aku lagi protes, krn designer Brebes ada 5 lebih, tapi yang dipake Sinok Sitong selalu orang Tegal,” kata Arya Kris, kepada gugah.id, Kamis (12/11/2021).

Seorang model mengenakan kebaya Arya Kris Kebaya.

Tak sampai di situ, kecintaan terhadap daerahnya pun selalu Kris promosikan ke luar daerah dalam agenda apapun. Termasuk mengenalkan kain batik khas Brebes ke ajang Miss Tourrism and Culture tahun 2017 lalu. Dirinya selalu mengenakan batik khas Brebes sebagai bentuk promosi.

Namun, atas kekecewaannya itu, brand Arya Kris Kebaya Brebes yang berdiri sejak 2014 lalu diganti menjadi Arya Kris Kebaya dan menghilangkan daerah asalnya.

“Sudah tidak terhitung berapa kain Brebes yang saya pakai untuk promo kota tercinta. Tapi tidak ada perhatian dari Pemkab Brebes. Akhirnya saya putuskan hilangkan nama Brebes dari brand saya,” tambahnya.

Dia berharap, di tahun mendatang Pemkab Brebes melibatkan designer-designer asli Brebes dalam agenda apapun. Menurutnya, fashion designer di Brebes bisa dikolaborasikan dengan perajin batik Salem dengan difasilitasi pemerintah. Baik dalam proses produksinya maupun proses promosinya. Termasuk dilibatkan dalam agenda seperti even Duta Wisata yang selama ini memakai designer dari luar daerah.

“Semoga tahun tahun depan teman-teman designer dilibatkan dalam semua ajang di Kabupaten Brebes. Itu saja harapan saya,” harapnya.

Sebagai fashion designer, setiap bulan puluhan baju pengantin dihasilkan dari karyanya. Karya itu kemudian dijual dengan kisaran harga antara Rp. 1,5 juta sampai Rp. 5 juta. Sedangkan, untuk menghasilkan satu potong baju pengantin dibutuhkan waktu 3-5 hari. Jika desainnya rumit detailnya sampai seminggu.

Walaupun dikerjakan dari tangan-tangan yang tinggal di kampung, namun hasil karyanya berjejer di butik-butik terkenal di Pekalongan, Yogyakarta dan Jakarta bahkan sampai Hong Kong. (mah)

Leave a Reply