Tragedi Penumpasan PKI, Sungai Pemali Jadi Tempat Larung Mayat

Peristiwa Sejarah
SAKSI BISU – Jembatan Pemali yang berada di Desa Wanacala Kecamatan Songgom menjadi saksi bisu penumpasan PKI. (foto: Dok. Google Maps)

The Killing Field 1965

BREBES, gugah.id – Pemberontakan Gerakan 30 September 1965 atau lebih dikenal G30S/ PKI menjadi kisah sejarah kelam di Indonesia. Saat itu terjadi pembantaian massal. Di berbagai daerah terjadi aksi pembantaian termasuk di Kabupaten Brebes.

Tragedi kemanusiaan ini terjadi pasca pemberontakan 30 September 1965. Ratusan bahkan ribuan orang yang dicap anggota dan simpatisan PKI dibantai secara massal, tak terkecuali di Kabupaten Brebes.

Dalam buku Revisi Hari Jadi Kabupaten Brebes terbitan tshun 2018 mengisahkan di Kabupaten Brebes, terdapat beberapa tempat bersejarah yang merupakan saksi bisu penumpasan PKI. Salah satunya di Jembatan Pemali Gantung yang berada di Desa Wanacala, Kecamatan Songgom Kabupaten Brebes.

Bangunan jembatan lama yang menjadi saksi bisu pembantaian ini sudah tidak berfungsi karena ambrol akibat banjir. Namun puing puing bangunan lama berupa bagian oprit masih tersisa. Setelah ambrol, dibangun jembatan di sampingnya yang saat ini berfungsi di dekat bangunan lama.

Sejarawan Pantura asal Brebes, Wijanarto mengungkapkan, dikutip dalam buku Revisi Revisi Hari Jadi Kabupaten Brebes, jembatan yang berada di atas sungai Pemali ini menjadi saksi bisu adanya The Killing Fileds. Di jembatan ini, anggota PKI atau simpatisannya dihabisi dan mayatnya dilarung ke sungai Pemali.

“Dari sejarah tutur yang diceritakan para saksi, banyak masyarakat, terutama di wilayah muara sungai Pemali, menemukan mayat korban korban 1965. Ini menyerupai kejadian di Bengawan Solo dan sungai Brantas Sidoarjo,” ungkap Wijanarto, Kamis (30/9).

SAKSI BISU – Jembatan Pemali yang berada di Desa Wanacala Kecamatan Songgom menjadi saksi bisu penumpasan PKI. (foto: Dok Google Maps)

Jumlah korban yang dibantai di jembatan ini, kata Wijanarto, hingga kini tidak pernah diketahui secara pasti. Tapi dari sejarah tutur yang diceritakan dalam Buku Revisi Sejarah Kabupaten Brebes, banyak sekali yang tewas dibantai di jembatan Pemali Gantung ini. Diperkirakan mencapai ratusan bahkan ribuan mayat mengapung di sungai Pemali hingga wilayah muara.

Imbas pemberontakan G30S/PKI ini sampai di Brebes setelah kehadiran Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) dari Jakarta. Pasukan penumpas PKI dari Jakarta ini datang ke Brebes pada 7 Oktober 1965.

RPKAD datang ke daerah karena ditengarai banyak anggota PKI yang melarikan diri dari Jakarta ke daerah daerah. Saat itu Jawa Tengah menjadi incaran operasi penumpasan PKI.

Daerah yang menjadi tempat tujuan pelarian adalah tempat yang memiliki basis massa PKI. Tidak hanya di Brebes, tapi pasukan ini juga mengamankan wilayah lain yang ditengarai sebagai basis PKI. Pasukan ini mendirikan pos pos komando. Di antaranya di Kecamatan Tanjung dan Brebes Kota.

Pusat komando ini berada di Brebes Kota yang sekarang menjadi Markas Kodim/0713 Brebes. Secara masif, pasukan bergerak dari Ciledug untuk menyisir wilayah Brebes Tengah seperti Banjarharjo, Ketanggungan dan sekitarnya.

Kehadiran pasukan tersebut menyemangati ormas ormas dan masyarakat untuk melakukan perlawanan dan pengganyangan terhadap gerakan kiri di Brebes.

“Puncaknya, masyarakat Brebes menggelar rapat akbar di Alun-alun Brebes pada 18 Oktober 1965. Banyak dari anggota gerakan kiri maupun simpatisanya ditumpas dan mayatnya dihanyutkan di sungai Pemali,” tutup Wijanarto. (dn)

Leave a Reply