POLITIK
1. Peringatan 28 Tahun Reformasi Gagal Digelar
Pelaksanaan kegiatan peringatan 28 tahun Reformasi yang direncanakan kalangan aktivis gagal total digelar.
Salah satu panitia acara, Ubedilah Badrun atau Kang Ubed, dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), mengungkapkan bahwa acara semula dijadwalkan berlangsung Kamis malam di Hotel Naraya, Rawamangun, Jakarta Timur. Biaya sewa ruangan disebut telah dibayarkan sebelumnya.
Namun, pada Kamis siang pihak hotel mengirim surat pembatalan penggunaan ruangan tanpa memberikan alasan yang jelas. Menurut penjelasan perwakilan hotel kepada panitia, pembatalan dilakukan setelah manajemen menerima telepon dari “pihak lain”.
Kang Ubed, yang juga merupakan aktivis Reformasi 1998, menilai peristiwa tersebut sebagai bentuk pembungkaman yang semakin merusak demokrasi.
Acara itu sebelumnya direncanakan melibatkan akademisi, mahasiswa, dan kalangan pekerja. Sejumlah tokoh yang dijadwalkan hadir antara lain Sukidi, Otib Satibi, dan Anthony Budiawan.
2. DPR Ingatkan Pemerintah soal Kerja Sama AS di Bandara Kertajati
Anggota Komisi I DPR dari PDIP, TB Hasanuddin, mengingatkan pemerintah agar memastikan persetujuan penggunaan Bandara Internasional Kertajati, Jawa Barat, oleh Amerika Serikat benar-benar murni kerja sama industri dan tidak memiliki tendensi pertahanan maupun militer.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam rapat DPR pada Selasa lalu menyampaikan bahwa pihak AS meminta penggunaan Bandara Kertajati sebagai pusat maintenance-repair-overhaul (MRO) pesawat Hercules untuk kawasan Asia.
Sjafrie menyebut Presiden Prabowo telah menyetujui permintaan tersebut.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, lahan Bandara Kertajati dinilai cukup memadai untuk mendukung pengembangan fasilitas MRO pesawat angkut berat C-130 Hercules di kawasan Asia.
Pesawat legendaris buatan perusahaan AS, Lockheed Martin, tersebut saat ini digunakan oleh puluhan negara di kawasan Asia.
3. TNI Siapkan Evakuasi Korban Pembunuhan di Papua Selatan
Panglima Koops TNI Habema, Mayjen TNI Yudha Airlangga, menyatakan pihaknya tengah menyiapkan pasukan dan perlengkapan untuk mengevakuasi delapan pendulang emas yang tewas di wilayah Korowai, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.
Korban diduga dibunuh oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB OPM).
Dalam sebuah rekaman video, Komandan TPNPB OPM Kopitua Heluka mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut yang disebut terjadi pada Selasa, 19 Mei 2026.
Menurut pengakuannya, para korban dianggap sebagai anggota TNI-Polri yang menyamar sebagai pendulang emas ilegal di Korowai.
Kelompok tersebut juga menyebut tindakan itu sebagai balasan atas tewasnya dua anggota OPM yang ditembak aparat keamanan pada 17 Mei 2026.
4. Aktivis Global Sumud Flotilla Dibebaskan Israel
Sebanyak 422 aktivis Global Sumud Flotilla (GSF), termasuk sembilan warga negara Indonesia (WNI), yang sebelumnya ditangkap Israel pada Senin, 18 Mei 2026, telah dibebaskan dan tiba di Turkiye pada Kamis kemarin.
Sembilan WNI tersebut dijadwalkan tiba di Indonesia pada Sabtu besok.
EKONOMI
1. Menkeu Purbaya: Ekonomi Tidak Sesulit yang Dipersepsikan
Menteri Keuangan Purbaya mengaku bingung dengan anggapan masyarakat yang merasa kondisi ekonomi sedang sulit, sementara data pemerintah menunjukkan tren berbeda.
Menurutnya, persepsi negatif tersebut banyak dipengaruhi analisis ekonomi di media sosial, termasuk TikTok.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat sebesar 5,61 persen.
Dalam acara Jogja Financial Festival, Purbaya menyebut konsumsi masyarakat masih menunjukkan tren peningkatan, ditandai dengan naiknya penjualan otomotif, konsumsi listrik, dan bahan bakar minyak (BBM).
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan daya beli masyarakat masih relatif baik.
Purbaya juga optimistis nilai tukar rupiah akan kembali menguat ke kisaran Rp15.000 per dolar AS.
Menurutnya, penguatan rupiah akan didukung keberhasilan penerbitan global bond denominasi dolar AS dan euro senilai USD 3,4 miliar yang disebut mendapat respons sangat positif dari pasar.
Selain itu, kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) di bank-bank BUMN juga diyakini dapat memperkuat cadangan devisa nasional.
2. Neraca Pembayaran Indonesia Defisit USD 9,15 Miliar
Bank Indonesia melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar USD 9,15 miliar.
Angka tersebut jauh lebih buruk dibanding kuartal IV-2025 yang masih mencatat surplus USD 6,07 miliar, bahkan melampaui total defisit sepanjang tahun 2025 yang sebesar USD 7,84 miliar.
Transaksi berjalan tercatat defisit USD 4 miliar. Meski neraca perdagangan nonmigas masih surplus, nilainya lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya. Sementara itu, neraca perdagangan migas masih mengalami defisit.
Defisit neraca pendapatan primer juga meningkat akibat naiknya pembayaran kupon dan bunga utang.
Di sisi lain, kinerja neraca jasa mengalami perbaikan seiring menurunnya impor jasa freight.
Bank Indonesia juga mencatat transaksi modal dan finansial mengalami defisit USD 4,9 miliar, berbalik dari kuartal sebelumnya yang mencatat surplus USD 9 miliar.
Meski demikian, investasi langsung masih mencatat surplus sebagai cerminan persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi dan iklim investasi domestik.
Investasi portofolio juga tetap surplus, walaupun nilainya lebih rendah dibanding kuartal IV-2025.
Sementara itu, investasi lainnya mengalami defisit akibat pembayaran pinjaman luar negeri yang jatuh tempo serta peningkatan penempatan kas dan simpanan di luar negeri.
3. S&P Soroti Risiko Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia
Lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings menilai rencana pemerintah mengendalikan ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) berpotensi menekan ekspor, mengurangi penerimaan negara, serta memengaruhi neraca pembayaran Indonesia.
Dalam pernyataan yang dirilis hari ini, S&P menyebut berbagai faktor tersebut dapat meningkatkan ketidakpastian terhadap prospek peringkat kredit Indonesia dan memperbesar risiko penurunan (downside risk) rating nasional.
Seperti diketahui, DSI nantinya akan membeli seluruh komoditas ekspor dari perusahaan dalam negeri sebelum menjualnya kembali kepada pembeli di luar negeri.
Tahap pertama kebijakan akan dimulai pada 1 Juni 2026, di mana perusahaan masih melakukan ekspor seperti biasa, namun seluruh transaksi akan dicatat oleh DSI.
Pada tahap kedua, DSI mulai melakukan pembelian komoditas melalui skema hybrid.
Selanjutnya, mulai Januari 2027, DSI akan menjalankan mekanisme pembelian penuh terhadap seluruh komoditas ekspor terkait.
TRENDING MEDSOS
1. “Kebijakan DHE Prabowo” Trending di X
Topik “Kebijakan DHE Prabowo” menjadi perbincangan hangat di platform X hari ini.
Sejumlah akun membagikan pernyataan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengenai kebijakan penempatan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam di bank-bank Himbara serta pembentukan badan usaha yang akan mengendalikan ekspor komoditas.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga menyatakan BI memperluas instrumen penempatan DHE dengan memperbolehkan penggunaan valuta asing selain dolar AS.
2. “Binus Kebakaran” Masuk Google Trends
Kata kunci “Binus kebakaran” masuk daftar Google Trends hari ini setelah terjadi kebakaran di auditorium Kampus Universitas Bina Nusantara (Binus), Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada pagi hari.
Hingga saat ini belum ada informasi resmi mengenai penyebab kebakaran maupun jumlah korban dalam peristiwa tersebut.
HIGHLIGHTS
1. Demokrasi Tidak Boleh Dibatasi di Tengah Tekanan Ekonomi
Jika benar pembatalan sepihak acara peringatan 28 tahun Reformasi terjadi akibat tekanan dari “pihak lain”, seperti disampaikan pihak hotel, maka tindakan tersebut sangat disayangkan.
Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya keresahan publik, ruang demokrasi seharusnya tidak dipersempit.
Saluran demokrasi yang dibatasi justru berpotensi memperbesar ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
2. Polemik Bandara Kertajati dan Kepentingan AS
Persetujuan Presiden Prabowo terhadap permintaan AS untuk menggunakan Bandara Kertajati sebagai pusat bengkel pesawat Hercules kawasan Asia memunculkan pro dan kontra di media sosial.
Pihak yang mendukung menilai kerja sama tersebut menguntungkan Indonesia melalui pemasukan sewa, transfer teknologi, serta peluang pengembangan industri aviasi nasional.
Sebaliknya, pihak yang menolak menganggap kebijakan tersebut sebagai bentuk inferioritas Indonesia terhadap AS dan bagian dari kepentingan geopolitik jangka panjang Amerika Serikat di kawasan Asia, khususnya dalam menghadapi China.
3. Sentralisasi Ekonomi dan Kekhawatiran Baru Pasar
Wacana pembentukan badan khusus pengelola ekspor sumber daya alam menunjukkan adanya kegelisahan negara terhadap kebocoran devisa, praktik transfer pricing, dan rente ekonomi yang selama ini memang menjadi persoalan nyata.
Namun, langkah pemerintah tersebut juga memunculkan kekhawatiran baru mengenai potensi sentralisasi kekuasaan ekonomi, monopoli, elite capture, dan ketidakpastian hukum.
Reaksi pelaku industri sawit dan pertambangan menunjukkan bahwa pasar bukan semata menolak penguatan tata kelola, melainkan khawatir terhadap perubahan besar yang dilakukan tanpa transparansi dan partisipasi yang memadai.
Di tengah tekanan fiskal, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian global, arah kebijakan yang belum jelas mudah dipersepsikan sebagai tambahan risiko oleh investor.
Di sisi lain, APBN memang mulai menunjukkan sedikit ruang perbaikan, ditandai dengan menurunnya defisit, surplus keseimbangan primer, dan pertumbuhan penerimaan negara.
Namun, perbaikan tersebut juga ditopang lonjakan subsidi dan kompensasi energi yang sangat besar, sehingga memunculkan risiko fiskal jangka panjang apabila terus dipertahankan.
Dalam situasi seperti ini, perlu dipastikan bahwa upaya memperkuat kedaulatan ekonomi tidak berubah menjadi konsentrasi kekuasaan ekonomi semata.
Momentum pembenahan seharusnya digunakan untuk memperkuat institusi, meningkatkan transparansi, dan memastikan sumber daya nasional benar-benar dikelola untuk kepentingan publik.