(Satire tentang bangsa yang kaya, bahagia, demokratis, dan selalu menemukan penjelasan untuk segala sesuatu kecuali mengapa tidak dipercaya)
Oleh: Laksamana Sukardi
Negeri yang Kaya Raya
Indonesia adalah negara yang sangat istimewa.
Tuhan memberikan hampir semua yang dibutuhkan untuk menjadi negara maju.
Minyak ada. Gas ada. Nikel ada. Emas ada. Batu bara ada. Sawit ada.
Laut luas. Tanah subur. Penduduk besar. Posisi geografis strategis.
Kalau setelah semua itu kita masih kesulitan, berarti kita sangat kreatif dalam menciptakan masalah sendiri.
Demokrasi yang Unik
Kita bangga menjadi salah satu demokrasi terbesar di dunia.
Rakyat bebas memilih pemimpin yang sebenarnya bukan pilihannya, karena pemimpin telah lebih dahulu diseleksi oleh elite partai politik.
Partai politik menyodorkan kambing, maka serigala akan dipimpin oleh seekor kambing.
Pemilu menjadi alat legitimasi yang menelan triliunan rupiah dari pajak rakyat.
Wakil rakyat yang dipilih untuk menjadi pengawas, tunduk kepada yang diawasi.
Pemimpin bebas memilih siapa yang mengawasi dirinya.
Yang diawasi bebas memilih siapa yang menulis laporannya.
Yang menulis laporan bebas memilih kesimpulannya.
Lalu semua orang menyebutnya checks and balances.
Karena kalau disebut arisan kekuasaan, terdengar kurang akademis.
Bangsa yang Selalu Bahagia
Kita juga termasuk bangsa paling bahagia di dunia.
Ini pencapaian yang luar biasa.
Di negara lain, orang bahagia setelah sejahtera.
Di Indonesia, orang bisa bahagia tanpa harus sejahtera. Bahkan bahagia sebelum bisa makan.
Cita-cita menjadi pejabat menjadi jaminan perut kenyang dan hidup bahagia.
Korupsi tinggi? Bahagia.
Pajak bocor? Bahagia.
Rupiah melemah? Bahagia.
IHSG turun? Bahagia.
Kepercayaan investor hilang? Tetap bahagia.
Kalau Titanic versi Indonesia tenggelam, kemungkinan penumpangnya masih sempat berkata:
“Yang penting kita tetap optimis.”
Lalu selfie terlebih dahulu.
Uang yang Memiliki Naluri Bertahan Hidup
Ekonomi kita katanya kuat.
PDB besar. Komoditas melimpah. Ekspor tinggi.
Tetapi anehnya devisa banyak parkir di luar negeri dan enggan kembali ke rumahnya sendiri.
Mungkin uang juga memiliki naluri bertahan hidup.
Ia pergi ke tempat yang membuatnya merasa aman.
Di Indonesia, uang bisa dicekal.
Uang dipajang di kejaksaan sebagai saksi bisu hasil korupsi dan dijadikan latar belakang konferensi pers, sementara koruptornya sering kali tidak jelas nasib akhirnya.
Restoran yang Selalu Rugi
Tax ratio kita kecil.
Ini prestasi yang sulit ditiru negara lain.
Ekonomi besar. Produksi besar. Konsumsi tinggi. Aktivitas ekonomi ramai.
Tetapi penerimaan negara selalu terasa kurang.
Seperti restoran yang selalu penuh pengunjung, tetapi pemiliknya mengaku tidak pernah untung karena dipalak preman setiap hari.
Semua orang tahu ada yang aneh.
Tetapi tidak ada yang tahu siapa yang harus merasa malu.
Atau mungkin semua tahu.
Hanya tidak ada yang mau memulai.
“Sesama bus kota dilarang saling mendahului.”
Kelangkaan yang Sebenarnya
Masalah yang kita hadapi sesungguhnya sederhana.
Bukan kekurangan sumber daya.
Bukan kekurangan penduduk.
Bukan kekurangan loyalis.
Kita hanya kekurangan sesuatu yang tidak bisa ditambang, dicetak, atau dipinjam.
Kepercayaan.
Dan ternyata kepercayaan adalah aset yang lebih mahal daripada nikel, emas, maupun batu bara.
Investor dan Pertunjukan Kemewahan
Ada satu hal yang selalu membuat investor asing tercengang.
Mereka melihat negara kaya raya yang masih mencari tambahan utang dengan bunga tinggi.
Mereka melihat ruang fiskal yang semakin sempit.
Mereka melihat penerimaan negara yang tidak pernah cukup.
Mereka melihat rupiah tertekan.
Mereka melihat pasar modal tertinggal.
Lalu mereka melihat para elitnya.
Perjalanan mencari utang menggunakan private jet.
Naik Rolls-Royce.
Memakai jam tangan seharga rumah.
Jas bermerek Eropa.
Menginap di hotel termewah.
Delegasi yang jumlahnya cukup untuk membentuk satu klub sepak bola.
Dan dengan semua kemewahan itu mereka pergi mencari pinjaman.
Padahal seharusnya menjadi donor atau kreditur.
Ini mungkin satu-satunya model bisnis di dunia yang datang ke bank memakai Rolls-Royce untuk meminta kredit.
Bayangkan seseorang turun dari jet pribadi.
Masuk ke bank dengan jas Italia.
Duduk penuh wibawa.
Lalu berkata:
“Maaf Pak, negara saya sedang kekurangan uang.”
Petugas bank mungkin bingung.
Harus menawarkan pinjaman atau konseling keuangan.
Yang Ditanyakan Investor
Dalam dunia bisnis ada prinsip sederhana:
Jika benar-benar kaya, Anda tidak perlu terlihat kaya.
Jika perlu terlihat kaya, biasanya ada sesuatu yang sedang ditutupi.
Karena kepercayaan lahir dari kredibilitas, bukan kemewahan.
Investor tidak pernah bertanya:
- Berapa banyak private jet yang dimiliki pejabat?
- Berapa banyak Rolls-Royce yang dipakai?
Mereka bertanya:
- Apakah aturan bisa berubah besok pagi?
- Apakah kontrak dihormati?
- Apakah hukum berlaku sama untuk semua?
- Apakah ada institusi negara yang berani berkata tidak kepada penguasa?
Pertanyaan yang terdengar membosankan.
Tetapi justru itulah pertanyaan yang menentukan ke mana modal akan mengalir.
Menyalahkan Timbangan
Lalu kita heran.
Mengapa rupiah melemah?
Mengapa IHSG tertinggal?
Mengapa arus modal keluar?
Mengapa kepercayaan turun?
Kita seperti pasien yang makan gorengan tiga kali sehari, merokok dua bungkus, tidur tiga jam, tidak pernah berolahraga, lalu marah kepada timbangan.
“Timbangan ini pasti bagian dari oposisi.”
“Atau antek asing.”
Republik yang Tidak Pernah Salah
Masalah terbesar Indonesia sebenarnya bukan utang.
Bukan defisit.
Bukan birokrasi.
Bahkan bukan korupsi.
Masalah terbesar Indonesia adalah terlalu banyak orang yang tidak pernah merasa bersalah.
Karena orang yang merasa bersalah masih bisa belajar.
Sedangkan orang yang tidak pernah merasa bersalah akan terus mengulang kesalahan sambil menyalahkan orang lain.
Ketika pasar khawatir:
“Pasarnya tidak mengerti.”
Ketika investor pergi:
“Investornya kurang nasionalis.”
Ketika akademisi mengkritik:
“Antek asing.”
Ketika media mengingatkan:
“Narasinya negatif.”
Ketika rakyat mulai cemas:
“Kurang optimis.”
Menarik sekali.
Semua salah.
Kecuali mereka.
Semua Menjadi Masalah Persepsi
Lama-kelamaan kita hidup di negara yang tidak punya masalah.
Karena semua masalah berhasil diubah menjadi masalah persepsi.
Ekonomi bukan masalah ekonomi.
Kepercayaan bukan masalah kepercayaan.
Pasar bukan masalah pasar.
Semuanya dianggap masalah komunikasi.
Kalau begitu, dokter juga tidak perlu lagi mengobati penyakit.
Cukup memperbaiki narasi.
Echo Chamber Kekuasaan
Yang paling berbahaya adalah echo chamber.
Tempat di mana kritik mati sebelum lahir.
Tempat di mana fakta harus meminta izin sebelum masuk.
Tempat di mana setiap kalimat berakhir dengan:
“Benar sekali Pak.”
“Luar biasa Pak.”
“Visioner sekali Pak.”
“Siap Komandan!”
“Sejarah akan mencatat Pak.”
Padahal sejarah memang selalu mencatat.
Masalahnya, sejarah tidak bekerja sebagai tim humas.
Alarm yang Dimatikan
Dalam sejarah dunia, negara jarang runtuh karena kekurangan orang pintar.
Negara lebih sering bermasalah karena terlalu banyak pemimpin yang hanya mendengar suaranya sendiri.
Mereka kehilangan kemampuan yang paling penting dalam kepemimpinan:
Kemampuan untuk merasa tidak nyaman.
Karena rasa tidak nyaman adalah alarm.
Dan alarm yang dimatikan tidak akan membuat kebakaran berhenti.
Pertanyaan Tentang Rasa Malu
Pertanyaan terbesar kita bukan:
Apakah Indonesia kaya?
Sudah jelas kaya.
Apakah Indonesia punya masa depan?
Sudah jelas punya.
Pertanyaannya adalah:
Apakah kita masih memiliki rasa malu?
Karena rasa malu adalah sistem peringatan terakhir sebuah bangsa.
Saat korupsi tidak lagi memalukan.
Saat konflik kepentingan tidak lagi memalukan.
Saat ketidakmampuan tidak lagi memalukan.
Saat kehilangan kepercayaan dianggap bukan masalah.
Maka yang hilang bukan hanya kekayaan.
Yang hilang adalah hati nurani kolektif.
Ketika Kepercayaan Pergi
Bangsa yang kehilangan hati nurani biasanya tidak langsung bangkrut.
Mereka tetap mengadakan konferensi.
Tetap membuat slogan.
Tetap membayar buzzer.
Tetap berpidato.
Tetap berfoto.
Tetap bertepuk tangan.
Tetap naik pesawat pribadi.
Sampai suatu hari mereka menemukan kenyataan yang sangat sederhana:
Pasar tidak mendengar pidato.
Investor tidak membaca slogan.
Uang tidak memilih paspor.
Dan kepercayaan tidak bisa dipaksa oleh kekuasaan.
Reformasi yang Paling Dibutuhkan
Namun kita tetap boleh optimis.
Karena sejarah juga mengajarkan sesuatu.
Bahwa bangsa tidak berubah ketika penderitaannya cukup besar.
Bangsa berubah ketika rasa malunya akhirnya lebih besar daripada egonya.
Mungkin reformasi yang paling dibutuhkan hari ini bukan reformasi fiskal.
Bukan reformasi birokrasi.
Bukan reformasi hukum.
Melainkan reformasi hati nurani.
Kemampuan sederhana untuk berkata:
“Ya, kami salah.”
Kalimat yang sangat murah.
Tidak membutuhkan APBN.
Tidak membutuhkan utang.
Tidak membutuhkan konsultan.
Tetapi entah mengapa menjadi komoditas paling langka di negeri yang konon kaya raya ini.
Jakarta, 14 Juni 2026